Candi Minak Jinggo Mojokerto Jombang, Memuat Kisah Pertarungan Masa Lalu

Candi Minak Jinggo berada di Desa Unggahan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur pada posisi cukup dekat dari Kabupaten Jombang. Obyek wisata sejarah ini merupakan candi yang dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Tetapi jika dibanding dengan candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya, candi ini mempunyai  keunikan yang berbeda. Pada umumnya, candi peninggalan Kerajaan Majapahit dibangun dengan material batu bata. Sedangkan Candi Minak Jinggo materialnya berupa batu andesit yang berpadu dengan batu bata.

Kisah pertarungan

Banyak yang menghubungkan keberadaan Candi Minak Jinggo dengan kisah pertarungan di masa lalu antara seorang adipati dari Blambangan, Minak Jinggo dan seorang pemuda dengan nama Darmawulan. Pemuda ini adalah bawahan Patih Loh Gender dari Kerajaan Majapahit.

Dalam kisah disebutkan, suatu saat Minak Jinggo mengadakan pemberontakan dan tidak mau tunduk lagi kepada Kerajaan Majapahit. Terkait dengan hal ini, kemudian Darmawulan diberi tugas untuk meredam pemberontakan yang dilakukan Minak Jinggo serta memberi hukuman kepadanya.

Singkatnya, Darmawulan berhasil mengalahksan sekaligus membunuh Minak Jinggo dan hal ini membuat ratu Majapahit, Ratu Kencana Wungu jatuh hati kepadanya. Pada akhirnya dapat ditebak, di akhir cerita Darmawulan dan Ratu Kencana Wungu bersanding sebagai pasangan suami istri. Selanjutnya Darmawulan menjadi raja di kerajaan Majapahit dengan gelar Prabu Brawijaya VI.

Kondisi candi

Kisah yang disebutkan di atas merupakan suatu kisah legenda di masyarakat sehingga secara keilmuan kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Akan tetapi, penamaan Candi Minak Jinggo sendiri memang punya kaitan erat dengan kisah legenda tersebut.

Di candi ini terdapat arca atau patung Garuda Wisnu. Oleh warga setempat, arca ini dianggap sebagai perwujudan dari Adipati Minak Jinggo. Padahal sebenarnya arca tersebut merupakan perwujudan Dewa Wisnu yang merupakan dewa pelindung menurut ajaran agama Hindu.

Selain arca burung garuda, di tempat yang sama bisa dijumpai pula beberapa arca lain seperti Dewi Laksmi, Dewi Sri dan sebagainya. Selain itu sebagian reliefnya membuat gambar sapi yang dianggap sebagai binatang suci. Kemudian ada lagi gambar makara, merupakan sebuah lambang untuk menghindarkan diri nasib jelek atau sial.

Dari adanya arca-arca dan relief tersebut, dapat disimpulkan jika obyek wisata sejarah Candi Minak Jinggo ini dulunya dipakai sebagai tempat pemujaan. Bahkan hingga sekarang, masih sering digunakan untuk menjalani ritual doa oleh warga sekitar yang memeluk agama Hindu. Karena itu saat berkunjung ke tempat tersebut harus selalu menjaga kesopanan dan perilaku.